DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

PERSAINGAN DAERAH PERBATASAN

 

SDN Bantengan 02 cepat tanggap melihat kondisi masyarakat sekitar Desa tersebut, apa sebenarnya yang disukai oleh calon siswa dan orang tua untuk menarik perhatian agar menyekolahkan anaknya tidak ke luar kota

Setelah semua Guru mengadakan pengamatan, ternyata sangat sederhana sekali, yakni masyarakat sekitar menginginkan sekolah mempunyai Kesenian Dongkrek warisan leluhur Rakyat Kabupaten Madiun.

Masyarakat menginginkan SDN Bantengan 02 lebih menonjolkan kesenian dongkrek untuk digunakan dalam acara berskala besar maupun kecil baik dari pihak sekolah maupun dari desa Bantengan itu sendiri.

Sehingga apabila dari pihak Desa ada kegiatan yang harus menampilkan Kesenian Dongkrek, bisa cepat dengan mudah menghubungi dari pihak Sekolah, kolaborasi semacam itu ternyata membuat sekolah kebanjiran Siswa.

Permasalahan klasik yang dihadapi setiap tahun adalah, karena letak Desa Bantengan Kecamatan Wungu Kabupaten Madiun sangat dekat atau daerah perbatasan dengan Kota Madiun, maka kalau tidak mempunyai program dan kegiatang betul-betul diminati masyarakat, bisa kehilangan siswa.

Seperti diketahui sebelumnya bahwa Minat Masyarakat Kabupaten Madiun sangat antusias sekali untuk bisa memasukkan sekolah anaknya ke Kota Madiun, karena lokasi mudah dijangkau dan lebih mempunyai fasilitas Program dan Kegiatan yang ditawarkan kepada calon Siswa.

Kepala Sekolah Bantengan 02 tidak tinggal diam, selalu membuat terobosan-terobosan program dan kegiatan baru agar sang calon siswa tidak pindah ke lain hati, yakni kota Madiun.

Salah satu formula bisa menyatukan Masyarakat Bantengan ternyata kesenian Dongkrek, tidak hanya mempelajari dari cerita bawaan aslinya saja, akan tetapi lebih banyak ada tambahan kombinasi rangkaian cerita variasi tarian baru agar tidak jenuh, akan tetapi tidak merubah ciri Khas Aslinya.

Menurut Informasi Kepala Sekolah, bahwa Jumlah Penerimaan Peserta didik Baru tiap tahun rata-rata sama, hampir sesuai dengan jumlah penduduk usia 7 – 12 Tahun, namun masih ada juga yang lolos masuk ke sekolah di Kota Madiun.

Apabila Kota Madiun tidak menerapkan penerimaan peserta didik Baru dari luar kota dibatasi hanya 10% dari Pagu, kemungkinan besar hampir semua calon siswa banyak lari ke Kota Madiun.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah Sekolah di Kabupaten Madiun Kurang menarik atau apa lagi? permasalahan ini telah menjadi renungan dan Pekerjaan Rumah bagi Pemerintah Kabupaten Madiun khusunya pihak sekolah, semoga segera cepat bisa terbuka jawabannya, jangan karena lembaga Negeri sudah merasa aman menjadi terlena.

Jumlah siswa 144 dirasa sudah cukup, akan tetapi kalau dilihat termasuk wilayah daerah perbatasan, apakah tidak bisa mempunyai terobosan untuk bisa menyerap lebih banyak dari siswa wilayah kota atau daerah luar Kabupaten.

Inilah harapan dari pihak Sekolah khususnya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun, mempunyai beberapa sekolah yang diminati dari luar daerah, hanya sekolah perbatasan mempunyai kesempatan itu.