DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

REVOLUSI MENTAL LEWAT KULTUR SEKOLAH

Budaya adalah cermin bangsa, dan pendidikan adalah kunci kemajuannya. Tidak ada bangsa yang maju tanpa punya sejarah panjang dengan budayanya. Jepang, Cina, Korea, bangsa-bangsa Eropa dan Amerika, berkembang pesat berkat mengambil hikmah budaya leluhurnya. Jepang membuktikan, begitu kalah perang dunia kedua, Kaisar Jepang lebih memprioritaskan pendidikan. Bukan mencari kekayaan dan sisa tentara yang tersisa, tetapi lebih membutuhkan keberadaan guru.

Sebaliknya sejarah juga sudah membelajarkan, 350 tahun dijajak Belanda dengan devide at impera, politik memecah belah, telah mewariskan trauma mendalam bagi bangsa ini. Betapa tidak, kesatuan dan kesatuan bangsa beberapa kali diuji dengan pemberontakan. Hingga sekarangpun, masih saja politik adu domba membudaya di masyarakat. Banyak diwartakan media, terjadi pertentangan-pertentangan di berbagai sendi kehidupan. Mulai polilik, sosial, apalagi yang berbau SARA (Suku, agama, ras dan antar golongan).

Bagaimana dengan Indonesia yang sudah tujuh puluh satu tahun merdeka? Pembaca bisa menyimak, merasakan dan mengambil kesimpulan sendiri. Seberapa sejajarkah atau setidaknya ada di level berapa posisi Indonesia sekarang. Mulai dari pendapatan domestik bruto, kemampuan daya saing SDM, budaya minat baca, peringkat sepakbola dan sebagainya. Angka-angka menunjukkan, Indonesia masih jauh dari harapan dan cita-cita para bapak pendiri bangsa.  PDB kita kalah jauh dari negera tetangga, Malaysia, Thailand apalagi Singapura. Kemampuan siswa kita untuk kemampuan literasi maupun MIPA menurut standar PISA masih diperingkat bawah.

Lantas bagaimana peluang Indonesia ke depan?  Jika laju peningkatan stabil, secara statistik anak-anak Indonesia akan mampu bersaing dalam persaiangan global. Makanya program Indonesia Emas, linear dengan tujuan pembangunan jangan panjang. Di usianya ke 100, Indonesia diharapkan sejajar dengan bangsa lain. Mampu mandiri, tidak terlalu menggantungkan bangsa lain. Klop dengan cita-cita Bung Karno, menjadi bangsa Berdikari, berdiri di atas kaki sendiri.

Untuk meraihnya, sejak dini perangkat lunak dan perangkat kerasnya harus disiapkan dengan baik. Bukan sekadar program copy paste yang dari tahun ke tahun tidak terlalu banyak dirasakan perubahan ke arah lebih baik. Jadi kalau kita sering mendengar, pemerintah melakukan perubahan besar-besaran dalam merancang dan melaksanakan programnya, hal itu harus disambut positif sebagai bentuk kreatifitas dan inovasi pembangunan, termasuk pembangunan pendidikan.

Tentunya, hal itu tidak lepas dari visi misi Pak Jokowi dengan Nawa  Cita-nya. Seperti Nawa Cita nomor delalan, “Melakukan revolusi karakter bangsa melalui kebijakan penataan kembali kurikulum pendidikan nasional dengan mengedepankanaspek pendidikan kewarganegaraan, yang menempatkan secara proporsioanal aspek pendidikan, seperti pengajaran sejarah pembentukan bangsa, nilai-nilai patriotism dan cita Tanah Air, semangat bela Negara dan budi pekerti di dalam kurikulum pendidikan Indonesia.” Begitu juga dengan Nawa Cita nomor Sembilan. “Memperteguh kebhinekaan dan memperkuat restorasi social Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga.”

Perlu langkah strategis, agar program kerja dan cita-cita luhur bangsa terwujud.. Bangsa yang cerdas, berbudaya, berkarakter, mandiri dan mampu berdaya saing. Disinilah peran penting  pendidikan. Lantas, apakah selama ini pendidikan belum membuahkan hasil. Jawabnya sederhana, sudah. Hanya, jika menengok hasil ke belakang dan melihat fenomena generasi muda, utamanya usia sekolah, serta pengaruh budaya global dan pesatnya teknologi, pembangunan pendidikan dan kebudayaan belum menunjukkan strata yang memuaskan. Prestasinya masing sedang-sedang saja, meski sudah banyak prestasi emas ditorehkan.

Penyatuan pendidikan dan kebudayan dalam satu departemen diharapkan bisa bersinergi membawa generasi emas ini berjalan selaras, saling melengkapi dan bisa menjadi katalis dalam merevolusi mental anak-anak bangsa. Berbagai terobosan perlu dilakukan, agar progres pembentukan manusia paripurna terwujud. Pemberlakuan kurikulum 2013 secara bertahap dengan berbagai perbaikan diharapkan mampu menjembatani kebutuhan masa depan bangsa. Tidak hanya masalah teknis seperti penilaian yang dianggap terlalu ribet dan membebani guru, tetapi yang utama adalah bagaimana membentuk generasi muda ini berkembang sesuai dengan usia, situasi kekinian dan tetap mengenal, memahami dan menerapkan kearifan ataupun budaya lokal. Hal ini juga sudah disikapi pemerintah mulai tahun ajaran baru tahun 2015/2016 dengan adanya pembiasaan di sekolah pada awal pelajaran hingga berakhirnya pelajaran di sekolah. Termasuk juga rencana pemerintah untuk lebih mengedepankan pendidikan karakter sebagai penyempurnaan pelaksaan pembelajaran yang rencananya dikemas ala full days school.

Namun demikian, kearifan dan budaya  lokal jangan sampai menumbuhkan kefanatikan daerah yang justru membuat bangsa ini terkotak-kotak. Nasionalisme sempit hanya akan mengembalikan bangsa Indonesia menjadi neo kolonialisme baru. Terkotak bahkan terjajah oleh budaya lokal yang membuat kebhinekaan sempit. Mentalitas anak bangsa harus terbangun secara simultan melalui penerapan rasa cinta tanah air. Mengenal bentuk budaya seluruh tanah, memahami nilai filosofi serta mau belajar serta mewarisinya. Saling menghargai perbedaan budaya, suku, agama, ras dan antar golongan dapat mempertahankan  kebhinekaan bangsa Indonesia.

Kita tidak ingin terjajah oleh budaya lain. Kita tidak ingin kelak harus ke luar negeri untuk belajar budaya bangsa Indonesia sendiri. Karena kalau kita mau jujur, sudah banyak generasi muda, utamanya anak-anak sekolah justru lebih kenal dan senang  dengan budaya manca. Sayangnya, bukan nilai positif yang mereka petik, tetapi justru efek negativ yang diperoleh. Sopan santun mulai luntur, tata pergaulan cenderung mengarah pergaulan bebas, narkoba merajalela, tawuran menjadi pemandangan rutin dan sebagainya. Dampak dalam waktu dekatnya mudah diterka. Anak-anak menjadi malas belajar, kurang hormat kepada orang tua, guru atau kepada siapapun, mudah marah dan sulit dikendalikan. Otomatis prestasi belajar dan kemampuan  daya saing mereka setelah lulus sekolah rendah.

Dan inilah peran sentral pendidikan diperlukan. Sekolah dapat membuat program-program jitu untuk membangun karakter anak, baik melalui kegiatan intrkurikuler, ekstra maupun kokurikuler. Melakukan pembiasaan yang bisa mengaktifkan motorik, membangun mental serta melatih kepekaan nurani dan rohani mereka. Tukar pelajar, mahasiswa atapun pemuda juga efektif untuk saling membelajarkan budaya bangsa. Tidak kenal maka tak sayang. Yang penting jangan sampai ajang belajar kebudayaan itu dicampur adukkan dengan kepentingan tertentu. Kepentingan politik misalnya. Jika sudah direcoki kepentingan sesaat justru akan merusaka nilai budaya itu sendiri dan mengaburkan sejarah.

Tentu saja program tanpa aksi adalah nol besar. Janganlah membuat program hanya dalam rangka. Dalam rangka lomba, dalam rangka status, dalam rangka kunjungan, dan sebagainya yang akhirnya hanya melahirkan orang-orang dan anak-anak pencari muka. Generasi ABS, generasi asal bapak senang. Karena sekali lagi, yang diperlukan adalah revolusi mental. Tetap melaksanakan tugas tanpa ada perintah, tanpa diawasi dan tanpa takut dengan penuh keikhlasan.

Bahwa orang berjalan itu perlu pedoman, perlu contoh. Apapun programnya jika hanya perintah tanpa contoh baik, hanya berjalan seumur jagung. Guru harus tetap memakai ajaran Ki Hajar Dewantoro, ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Kultur sekolah harus bisa mengakar kepada seluruh siswa dan stakeholder. Hal ini pula yang akhinya akan melahirkan generasi mumpuni, berkualitas dan tahan banting. Generasi emas yang siap mengabdi dengan semboyan kerja… kerja… kerja, dalam koridor Bhinneka Tunggal Ika.

Oleh: Abdul Hakim

Guru SMPN 1 Dolopo

Kabupaten Madiun

Provinsi Jawa Timur

 

NEW

May 28th 2018Views 0Comments 0Rating 0
May 28th 2018Views 0Comments 0Rating 0
May 26th 2018Views 0Comments 0Rating 0
May 25th 2018Views 20Comments 0Rating 0
May 24th 2018Views 24Comments 0Rating 0
May 24th 2018Views 13Comments 0Rating 0
May 24th 2018Views 28Comments 0Rating 0
May 23rd 2018Views 14Comments 0Rating 0
May 22nd 2018Views 20Comments 0Rating 0
May 21st 2018Views 23Comments 0Rating 0
May 17th 2018Views 24Comments 0Rating 0
May 15th 2018Views 32Comments 0Rating 0
May 15th 2018Views 23Comments 0Rating 0
May 9th 2018Views 31Comments 0Rating 0
May 7th 2018Views 39Comments 0Rating 0
May 7th 2018Views 34Comments 0Rating 0
May 7th 2018Views 33Comments 0Rating 0
May 4th 2018Views 58Comments 0Rating 0
May 4th 2018Views 38Comments 0Rating 0
May 3rd 2018Views 52Comments 0Rating 0
May 3rd 2018Views 40Comments 0Rating 0
May 2nd 2018Views 54Comments 0Rating 0
May 2nd 2018Views 43Comments 0Rating 0
April 30th 2018Views 46Comments 0Rating 0
April 23rd 2018Views 61Comments 0Rating 0