DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

PENGEMBANGAN JARINGAN

Perkembangan ICT Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Madiun relatif tidak stabil, dari tahun ke tahun selalu mengalami pasang surut seiring perkembangan waktu dengan berbagai banyak ragam kendala.

 

Kurang lebih tahun 2005, Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri, Sekretariat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional “Gatot Hari Priowirjanto” telah merencanakan membangun intranet Indonesia yaitu Jaringan Pendidikan Nasional (Jardiknas) untuk Dinas Pendidikan Propinsi / Kabupaten / Kota dan program Scoolnet untuk lembaga sekolah di seluruh Indonesia.

Sebelum pelaksanaan di daerah, pusat telah memberi bekal pelatihan bagi tenaga kependidikan Dinas Pendidikan Provinsi, Kabupaten / Kota dan SMK yang ditunjuk, dengan materi pengembangan jaringan LAN dan WAN, pada waktu itu pula Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun dan SMKN 1 Wonoasri ditunjuk sebagai ICT Center.

Dengan terpilihnya ICT center, untuk menunjang sarana dan prasarana adanya intranet, pada waktu itu telah membangun 2 (dua) Tower triangle di Dinas Pendidikan dan SMKN 1 Wonoasri.

Implementasi dari Jardiknas pada waktu itu Dinas mempunyai rencana akan membangun “Intranet Pendidikan” dan “Server lokal” yang mempunyai tujuan adalah untuk mempermudah koordinasi dengan seluruh lembaga, menyingkat proses pelaksanaan kegiatan, mengurangi terjadinya kesalahan jejaring pendataan (Data satu pintu), menyimpan / menunjang aplikasi, konten dan ruang Download website resmi Dinas dan media pembelajaran yang terpusat, laporan PPDB ofline maupun online di seluruh lembaga Sekolah Kabupaten Madiun.

Berkaitan dengan rencana pengembangan “Intranet Pendidikan” dan “Server lokal” wilayah Pendidikan Kabupaten Madiun, dapat dikatakan “gagal” meskipun tahun sebelumnya sudah berkembang sangat pesat, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kendala tersebut, salah satunya masih banyak yang kurang faham antara “perbedaan intranet dan internet”.

Namun dari kegagalan tersebut masih ada beberapa sisa-sisa kegiatan hasil implementasi Jardiknas sampai sekarang yang masih bertahan, yaitu “Website” dan jaringan internet meskipun dengan biaya sendiri tanpa IP Publik, sehingga jaringan sekarang belum bisa digunakan untuk menyimpan konten lokal atau server lokal, hanya bisa digunakan untuk browsing internet saja.

Selain hal tersebut di atas, apa yang menjadi kendala waktu itu adalah belum terbangunnya komitmen yang tegas antara atasan dengan jajaran dibawahnya, masih langka atau kurang menarik untuk melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan informasi dan Teknologi baru, kurangnya sosialisasi tentang UU No 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik.

Pemerintah dan wilayah Kabupaten / Kota sudah banyak yang mempunyai tujuan membangun “aplikasi satu data Indonesia atau wilayah”, hal ini sangat berkaitan dengan betapa pentinya adanya “intranet Pendidikan Kabupaten Madiun”, apabila masih menggunakan “internet” tentunya memerlukan jumlah kuota yang sangat besar, akibatnya terjadinya pemborosan anggaran, selain itu rata-rata internet masih kurang stabil, sehingga menggangu pelaksanaan kegiatan, beda jauh apabila sudah terbangun “Intranet Pendidikan”, tentunya tidak sepenuhnya tergantung dengan kuota internet.

Masih ada pengguna Internet yang kurang paham tentang pemakaian kuota internet, salah satunya pnggunaan Wi Fi, Dinas menyediakan 1 (satu) Wi Fi idealnya 10 (sepuluh) user, apabila sudah melebihi user, otomatis internet sudah tidak stabil lagi atau down.

Jumlah Wi Fi Dinas Kurang lebih baru ada 6 (enam), sedangkan pengguna internet melebihi jumlah dari kelipatan 10 tersebut, yang menjadi kendala adalah pengguna ada yang menggunakan Komputer, Laptop dan HP, jadi minimal setiap user menggunakan lebih dari dua atau tiga, perlu diketahui bahwa jumlah PNS kurang lebih ada 150.

Berkaitan dengan penggunaan tersebut Dinas masih menggunakan isitilahnya “up to bandwidth” belum menggunakan yang “dedicated”, contoh yang up to bandwidth Paket 100 Mbps artinya apabila ada pengguna user 20 berarti masing-masing user idelanya kebagian kurang dari 5 Mbps (100 Mbps /20 user), beda yang dedicated misalkan paket 10 Mbps artinya setiap 1 (satu) user atau pemakai kebagian 10 Mbps dengan kecepatan stabil meskipun pengguna atau usernya banyak.

Hampir semua paket Internet mempunyai kelemahan dan kelebihan, kelebehian “up to bandwidth” paket 100 Mbps apabila digunakan hanya satu user atau pengguna tentunya hampir kebagian kurang dari 100 Mbps dan biaya langgana agak murah, tapi kurang tepat atau kurang cocok apabila digunakan dalam kelompok pengguna atau user yang banyak.

Sedangkan yang “dedicated” cocok dugunakan dalam kelompok yang jumlah pengguna atau usernya banyak, kelemahan, terlalu besar kuotanya apabila digunakan untuk HP dan biaya paket langganan masih relatif mahal.

Selian bandwidth internet pihak ICT Dinas sudah lama ingin membangun website sebagai media informasi publik, usaha perjalanan website mulai menggunakan blog gratis kemudian langganan dengan domain http://dindikkabmadiun.com sampai kurang lebih sekitar 4 tahun terakhir pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun membangun domain resmi untuk semua OPD sebagai bentuk optimalisasi informasi Publik.

Sebelum perubahan SOTK Baru website Pemerintah Daerah dikelola oleh Pengelola Data Elektronik (PDE) BAPPEDA dan setiap tahun diadakan semacam lomba website dan hampir seluruh OPD sudah mempunyai website termasuk Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dengan domain resmi http://dindik.madiunkab.go.id

Setelah tahun 2017 ada perubahan SOTK baru, pengelola website Pemerintah Daerah Kabupaten Madiun sekarang dikelola oleh Dinas Komunikasi dan informatika Kabupaten Madiun Jalan Mastrip Kota Madiun.

Berkaitan hal diatas, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan “Sodik Hery Purnomo S.Si”  kali ini telah membaca peluang tersebut, salah satunya menumbuhkembangkan budaya “Literasi”, Beliau berkomitmen untuk membangun sebuah Jaringan antara Dinas dengan Lembaga sekolah khususnya Pendidik, Tenaga Kependidikan dan peserta didik dalam wadah “Cendekia Mejayan” untuk bisa berperan aktif menghasilkan karya terhebatnya di media elektronik maupun cetak.

Apalagi untuk menghadapi berlakunya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah yang akan berlaku pada tahun Ajaran Baru 2017/2018, pada intinya akan memperlakukan sekolah 8 jam sehari selama 5 hari (Full Day School) dengan harapan salah satunya akan bermunculan metode diluar pembelajaran.

 

NEW

February 23rd 2018Views 5Comments 0Rating 0
February 23rd 2018Views 7Comments 0Rating 0
February 22nd 2018Views 3Comments 0Rating 0
February 19th 2018Views 7Comments 0Rating 0
February 15th 2018Views 18Comments 0Rating 0
February 14th 2018Views 21Comments 0Rating 0
February 12th 2018Views 14Comments 0Rating 0
February 9th 2018Views 27Comments 0Rating 0
February 7th 2018Views 25Comments 0Rating 0
February 6th 2018Views 42Comments 0Rating 0
February 5th 2018Views 25Comments 0Rating 0
February 4th 2018Views 31Comments 0Rating 0
February 2nd 2018Views 31Comments 0Rating 0
February 1st 2018Views 32Comments 0Rating 0
January 31st 2018Views 44Comments 0Rating 0
January 31st 2018Views 30Comments 0Rating 0
January 30th 2018Views 29Comments 0Rating 0
January 29th 2018Views 32Comments 0Rating 0
January 26th 2018Views 38Comments 0Rating 0
January 25th 2018Views 57Comments 0Rating 0
January 25th 2018Views 39Comments 0Rating 0
January 24th 2018Views 38Comments 0Rating 0
January 23rd 2018Views 123Comments 0Rating 0
January 23rd 2018Views 36Comments 0Rating 0
January 17th 2018Views 56Comments 0Rating 0