DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

DIKLAT JURNALISTIK GELOMBANG VI JILID II MENGHADANG ADANYA PERKEMBANGAN INDUSTRI TELEVISI

27 Desember 2018 Pukul 08.00 WIB, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang sudah menjalin kerja sama dengan Radar Jawa Pos Madiun kembali menggelar Diklat jurnalistik Gelombang VI di Gedung Radar Jalan Panjaitan No. 12 Madiun, meskipun saat liburan mereka tetap semangat untuk mengikuti tahapan dari pemateri yang disampaikan oleh Wawan Isd, Redaktur Senior Radar Madiun, yang diikuti 37 peserta dari jenjang sekolah dasar.

Makna Berita bagi masyarakat adalah data dan informasi dapat digunakan oleh jurnalis, akademisi, aktifis sebelum liputan atau sumber bahan penelitian dan dapat juga digunakan untuk mempromosikan kegiatan sekolah yang lebih mengutamakan pemberdayaan potensi lokal kepada masyarakat.

Mengingat semakin banyak tumbuh berkembang stasiun TV Swasta yang sangat membutuhkan kaum jurnalis lebih profesional, padahal apa yang kita lihat sekarang, masih dapat bisa dihitung dengan jari adanya ekskul jurnalistik di sekolah.

Memang dari semua siswa satu lembaga mungkin yang mempunyai bakat jurnalis hanya segelintir saja, hal inilah yang perlu mendapat perhatian dari pihak sekolah, meskipun jumlah kecil, namun apabila setiap sekolah seluruh Kabupaten Madiun bisa menggali potensi bakat yang masih terpendam, toh akhirnya bisa berjumlah banyak.

Siapa tau jika Kabupaten Madiun di masa akan datang bisa menjadi kota besar dan bisa mengalahkan kota lain yang sekarang sudah berkembang pesat lebih dulu, otomatis sangat dibutuhkan tenaga jurnalis yang banyak dan mempunyai kemampuan andal pula.

Minimal tumbuh industri telivisi swasta semakin banyak, itulah gambaran mengapa belajar jurnalistik itu penting, jelas perkembangan wilayah semakin maju perekonomian dan tidak mungkin salah satu wilayah akan mengalami kemunduran atau keterpurukan, karena dengan otonomi daerah semua bisa mengekspresikan wilayahnya masing-masing.

Jika dilihat sekarang saja, di pegunungan wilis sudah mulai bermunculan daerah wisata baru, baik itu karena kreatifitasnya masyarakat setempat atau memang benar-benar alami, itulah salah satu pertanda bahwa dimungkinkan daerah tersebut bakal mengalami perubahan status, yakni dari pedesaan yang gersang menjadi perkotaan yang dikelingi banyak hotel berbintang.

Masyarakat asli Kabupaten Madiun harus siap menghadapi adanya perubahan tersebut, jangan justru sebaliknya malah menjadi korban dampak dari perubahan tersebut, kita harus bisa mebaca peta masa akan datang, kemudian langkah apa yang harus ditempuh untuk menghadang adanya perubahan tersebut.

Harapannya, sekolah mulai jenjang dari SD harus memperdayakan adanya ekskul keterampilan untuk bekal agar nanti tidak tergilas oleh perubahan yang lebih menyakitkan, apalagi jika akhirnya justru dimanfaatkan oleh orang wilayah lain, memang itu sah-sah saja tidak melanggar peraturan, namun sayang jika masyarakat asli masih menjadi kuli mereka.

Siapakah nanti yang akan tergilas dengan adanya perubahan, jelas bagi mereka yang tidak mempunyai keterampilan khusus, karena formasi penerimaan pegawai baik negeri maupun swasta sangat terbatas sekali, apakah harus selalu menunggu adanya penerimaan pegawai, jelas tidak mungkin.

Masyarakat yang dimungkinkan berhasil bisa mencapai puncak kejayaan, justru mereka yang selalu mengikuti adanya perubahn dan selalu menyiapakan keahlihan yang dimiliki disesuaikan dengan apa yang lagi booming saat ini dan sebaliknya jika tidak mempunyai keterampilan kekususan akan menerima nasib yang kurang beruntung.

Jurnalis yang selalu mendengar, melihat, datang langsung ke lokasi, kemudian menyimpulkan adanya peristiwa yang beraneka ragam kategori, dan otomatis mendengar terlebih dahulu jika ada isu-isu yang bakal terjadi, kesimpulan apabila nanti menjadi kota besar, tentu banyak peristiwa yang terjadi, seiring itu dampaknya banyak berita juga.