DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

SEKOLAH BUKAN TPA

Kalau tidak mau sekolah, besok bapak belikan kambing. Beternak saja!” Kalimat intimidasi semacam ini akrab di telinga anak zaman dulu. Ancaman itu ampuh, karena menggembala itu pekerjaan berat. Dilan belum tentu kuat. Makanya mereka lebih senang sekolah. Belajar giat untuk memperbaiki nasib. Coba, kalau ancaman itu diberikan kepada kids zaman now (sekarang). Pasti jawabannya membuat telinga memerah. “Belikan kambing saja, Pak. Nanti kambing nya aku jual buat beli HP, sama main. Sekolah membosankan,” begitu kira-kira jawabannya.

Ya, zaman telah berubah. Pengaruh teknologi informasi, sosial budaya banyak mempengaruhi mental spiritual anak-anak. Orang tua terpaksa mengalah, demi anak kesayangan. Soal pendidikan, gampang! Serahkan saja kepada bapak ibu guru di sekolah, beres! Orang tua pasrah bongkokan (menyerahkan sepenuhnya). Menurut, apa kata sekolah. Diperlakukan apa saja boleh, asal menjadi baik. Lha sekarang, sedikit-sedikit lapor polisi manakala anaknya mendapat perlakuan yang tidak berkenan di hati, hanya karena hal sepele.

Jamak dijumpai, anak-anak sekolah zaman now (sekarang) menjadikan sekolah sebagai arena pelarian. Kalau tidak mau disebut sekolah hanya untuk main-main. Melampiaskan kegalauan yang mungkin saja terkekang, atau bahkan tidak pernah tersentuh belaian kasih sayang orang tua. Hidup dititipkan kepada kakek nenek, paman bibi, sementara orang tuanya terpaksa keluar negeri mengais rejeki. Tanpa bimbingan dan pengawasan orang tua, anak tumbuh tidak sesuai dengan perkembangan usianya. Pergaulan bebas membuat anak-anak kehilangan jati diri. Liar, terbawa arus gaya hidup masa kini.

Sekolah ketiban rejeki. Menjadi bengkel memperbaiki budi pekerti. Dengan rambu-rambu hak asasi, berupaya keras menyelami dari hati ke hati. Tidak boleh menghukum, tetapi memotivasi mirip memberi ASI pada bayi. Harus hati-hati, agar kalau ada salah serta khilaf tidak dihakimi. Syukur tidak masuk bui. Dengan tugas berjibun, guru harus bekerja sesuai tupoksi, mendidik, membina dan membimbing mereka. Guru juga manusia, punya batas kesabaran saat melihat anak berulah melebihi batas. Pada akhirnya hanya bisa memberi nasehat dan berucap istigfar. Atau bahkan melakukan pembiaran, daripada pusing kepala. Sudah semestinya orang tua serta masyarakat tidak serta merta menganggap sekolah sebagai tempat penitipan anak (TPA). Pendidikan anak menjadi tanggung jawab bersama. Orang tua harus peduli dan meluangkan waktu buat anaknya. Kepedulian para stakeholder (komunitas) sekolah menjadi kunci, agar anak-anak ini menjadi generasi emas betulan, bukan imitasi.

Abdul Hakim, Guru SMPN 1 Dolopo

 

NEW

June 21st 2018Views 6Comments 0Rating 0
June 21st 2018Views 5Comments 0Rating 0
June 13th 2018Views 19Comments 0Rating 0
June 8th 2018Views 25Comments 0Rating 0
June 7th 2018Views 18Comments 0Rating 0
June 7th 2018Views 28Comments 0Rating 0
June 6th 2018Views 18Comments 0Rating 0
June 6th 2018Views 22Comments 0Rating 0
June 5th 2018Views 23Comments 0Rating 0
June 5th 2018Views 27Comments 0Rating 0
June 4th 2018Views 24Comments 0Rating 0
June 4th 2018Views 20Comments 0Rating 0
May 31st 2018Views 34Comments 0Rating 0
May 31st 2018Views 23Comments 0Rating 0
May 30th 2018Views 31Comments 0Rating 0
May 28th 2018Views 40Comments 0Rating 0
May 28th 2018Views 25Comments 0Rating 0
May 26th 2018Views 41Comments 0Rating 0
May 25th 2018Views 40Comments 0Rating 0
May 24th 2018Views 70Comments 0Rating 0
May 24th 2018Views 38Comments 0Rating 0
May 24th 2018Views 45Comments 0Rating 0
May 23rd 2018Views 48Comments 0Rating 0
May 22nd 2018Views 43Comments 0Rating 0