DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

JIHAD YES, RADIKAL NO

 

Bom Surabaya mengusik Kebhinnekaan Tunggal Ika. Apalagi belakangan diketahui pelakunya keluarga muslim, yang berafiliasi dengan ISIS. Berdalih jihad, mereka menganggap selain Islam dianggap musuh. Sontak, kaum muslim kena getahnya. Islam dicap miring. Lambang-lambang Islam mulai ada yang dicurigai radikal, bahkan menjurus berbau teroris. Sebegitu dangkalkah pemahaman jihad?

Jihad bukan saling menjelek-jelekkan, memusuhi, merusak ataupun membunuh orang yang berbeda keyakinan. Jihad itu gerakan positif untuk menegakkan keadilan dan kebenaran. Bukan monopoli umat Islam saja yang harus berjihad. Bukan pula para tokoh agama, ataupun aliran tertentu sebagai penggeraknya. Presiden, gubernur, bupati, tentara, polisi, guru, petani, semua orang, golongan, dan penganut agama berhak dan wajib berjihad.

Jika jihad disalah artikan dan umat Islam sering dipojokkan sebagai biangnya, ini persangkaan kejam. Mengapa banyak kekejaman, pembunuhan, penindasan yang dilakukan bukan kaum muslim terhadap kaum muslim tidak dihujat, tidak dianggap teroris. Termasuk juga kekerasan dan kasus-kasus berbau SARA antar non muslim? Dunia memang tidak adil. Ketimpangan seperti itu menyulut fanatisme sempit.

Islam itu rahmatal lil’alamin, membawa kedamaian. Jihad bisa dilakukan dengan tindakan, mengingatkan yang batil agar benar. Merobohkan kemungkaran dengan kebajikan. Siapa pelopornya? Yang mudah melakukan adalah mereka yang diberi amanah sebagai pemimpin otonom, penegak hukum, dan sebagainya. Kalau dengan kekuasaan tidak bisa, bolehlah dengan perkataan. Dan selemah-lemah iman, dengan tidak mengikuti hal buruk dan dalam hati ingin merubah kejahatan itu, sudah cukup sebagai jihad. Tidak harus turun ke jalan. Jangan melakukan tindakan anarki, agar diri dianggap suhada. Islam tidak suka kekerasan, Islam bukan gerakan radikal.

Islam juga sudah menasehatkan, bahwa sesungguhnya, kemiskinan bisa mendatangkan kekufuran. Ketimpangan sosial dapat meletupkan jiwa memberontak, radikal. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama menciptakan kehidupan yang cinta damai. Para pemimpin melaksanakan amanahnya, didukung rakyatnya. Penegak hukum berjihad menegakkan kebenaran demi terwujudnya rasa aman, sejahtera dalam keadilan, adil dalam kemakmuran. Jihad itu tidak berat, semua pasti kuat. Lawan terberat jihad  adalah hawa nafsu. Jikalau seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya, niscaya hidup semakin ringan dan indah pada waktunya. Jihad bisa dilakukan oleh siapapun, di manapun, dan kapanpun. Jihad forever, jihad yes, radikal no. Karena sesungguhnya setiap orang adalah pemimpin, yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya.

(opini oleh Abdul Hakim, Guru SMPN 1 Dolopo Madiun)