DINAS PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

DAMPAK LITERASI DI MEDIA SOSIAL ADA YANG POSITIF DAN SEBALIKNYA

Masalah minat baca anak zama millennium indikatornya sebenarnya bisa mencapai 100%, yang menjadi kendala adalah yang dibaca itu bermanfaat atau tidak, menurut pengamatan kepala sekolah SDN Purwosari 02 Kecamatan Wonoasri Surini, mungkin hanya sekitar tidak lebih dari 5% yang bacaannya bermanfaat.

Hal itu bisa dibuktikan dengan capaian nilai rata-rata kelas ketika ulangan, selisih sangat jauh dengan yang nilai akademiknya baik, kemudian angka tingkat membaca 100% di atas yang dibaca mereka tentang apa ? ini menjadi sebuah pekerjaan rumah dan pertanyaan besar bagi pendidik dan masyarakat.

Indikator minat baca mencapai 100% sebenarnya digunakan hanya dengan bermain Handphone, waktu bangun pagi apa yang mereka pegang ? hanya Handphone, mereka segera mungkin menanggapi komentar yang ada di media sosial, apa kemanfaatnya di media sosial, tentu ada yang positif dan ada yang kurang bermanfaat.

Di media sosial tersebut sebenarnya program literasi program pemerintah sudah berjalan dengan baik, yakni kemampuan membaca, menyimpulkan dan menulis, namun di media sosial hanya semacam komunikasi tidak serius atau semacam guyonan untuk mengisi kekosongan waktu.

Komunikasi tidak serius dan guyonan jika digunakan untuk waktu libur mungkin tidak apa-apa, namun kalau mereka melakukan setiap hari, tentu akan berdampak buruk bagi perkembangan inlektualnya, hidup penuh guyon, kapan untuk serius, bisa-bisa akan berlanjut sampai dewasa nanti.

Selain media sosial yang disenangi adalah game ofline maupun online, sebenarnya mereka terbius dengan sebuah ilusi atau khayalan saja, game perang dengan musuh, seakan-akan bisa menembak dengan kecepatan yang dianggap tinggi dan hasilnya puas setelah mereka memenangkan hasil akhir, itu bahaya bagi perkembangan mereka, karena semua itu hanya sebuah angan-angan saja.

Capaian tidak lebih dari 5% bagi mereka yang menginginkan belajar untuk bisa menguasai program apalikasinya, apabila bisa membuat game sendiri tentu ada kemanfaatanya, tidak hanya pengguna tetapi pencipta, untuk mengalihkan paradigma tersebut, tentu bisa dikatakan gampang dan bisa mudah, tinggal teknik pendidik harus pandai-pandai untuk mengarahkan mereka.

Surini mencoba siswa mengajak berkunjung ke perpustakaan Kabupaten Madiun pada tanggal 14 November 2018, beliau mempunyai tujuan untuk mengetahui bacaan apa yang sebenarnya mereka senangi di sana, ada yang kelihatan serius dan ada yang ogah-ogahan, terbukti bacaan yang mereka senangi bermacam-macam, jarang yang ada hubungan dengan pelajaran di sekolah, mereka lebih senang dengan bacaan ensiklopedi, buku cerita rakyat.

Memang tidak bisa dikatakan media sosial dan game di Handphone tidak penting, namun perlu diwaspadai adalah, untuk bisa mengarahkan mereka agar bisa lebih memanfaatkan teknologi informasi tersebut kearah yang lebih posistif, bagaimanapun juga itu merupakan tuntutan zaman abad millennium yang tidak boleh dihindari, dan semakin hari bukan tambah berkurang namupun pasti akan lebih canggih lagi.

Salah satu tujuan utama adalah siswa yang harus benar-benar diberi pengetahuan yang memadai tentang dampak positif maupun negatifnya, sedangkan pendidik tidak boleh kalah dengan siswa, itu merupakan wajib harus selalu  mengikuti perkembangan tersebut, masyarakat sebenarnya sudah pafam dengan dampak perkembangan teknologi informasi tersebut, maka harus saling adanya kerja sama antara guru, siswa dan masyarakat agar lebih selalu siap mengikutinya, demi siswa agar tidak salah arah dalam pergaulan maupun untuk menentukan cita-citanya.

Yel yel Kabupaten Madiun : Madiun Jaya, Madiun Jaya, Madiun Milik Kita

Visi Bupati : aman, mandiri, sejahtera, berakhlak

Moto Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan : Maju bersama hebat semua