DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN MADIUN

Font Size

SCREEN

Profile

Layout

Menu Style

Cpanel

IMPLEMENTASI GERAKAN LITERASI DENGAN MODEL TERAS PUSTAKA

ABSTRAK : Kemajudak serta merta ada pada seseorang melainkan diupayakan dengan cara belajar atau membaca. Selain ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikuasai dengan membaca, sikap dan karakter seseorang akan terbentuk ke arah positif. Karena itu, budaya baca sangat perlu dan begitu penting ditanamkan sedini mungkin bagi siswa mulai dari sekolah dasar. Menyikapi kebijakan pemerintah tentang Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang intinya pembiasaan membaca buku nonpelajaran selama 15 menit sebelum pembelajaran dimulai, pembiasaan tersebut saat ini diterapkan di SD Negeri Kedungrejo 02, Kecamatan Balerejo, Madiun dengan model “Teras Pustaka”. Dengan model ini, para siswa atau warga sekolah berekspresi dan termotivasi untuk bersaing sehat membaca buku secara bebas di alam terbuka dengan riang gembira. Tujuannya, mereka menjadi Generasi Emas di tahun 2045 yang berkarakter Indonesia dengan motto “Cinta Buku, Gemar Membaca, Giat Menulis, Pandai Berhitung, dan Rindu Perpustakaan”.

Kata‑kata kunci: Implementasi, literasi, teras pustaka.

“Buku adalah jendela dunia, membaca adalah kuncinya”, itulah kata‑kata bijak yang sering diucapkan namun jarang diimplementasikan dalam kehidupan sehari‑hari. Jika disadari, hubungan antara buku dan membaca (pembaca) bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Karena banyak membaca, pengetahuan seseorang semakin bertambah sehingga memberi kemudahan dalam mencapai cita‑cita. Dengan membaca pula sikap dan karakter seseorang dapat terbentuk ke arah positif. Sikap yang lahir dari pengetahuan positif, bagaikan lentera yang selalu menerangi menuju jalan kebenaran. Seseorang yang gemar membaca apalagi dimulai dari anak usia sekolah dasar maka dapat membentuk sikap disiplin, character building, kecerdasan spritual, kecerdasan sosial, kecerdasan moral, dan kecerdasan emosionalnya, disamping pendidikan ilmu pengetahuan dan keterampilan (Lukitaningsih, 2011:13).

Ketepatan seseorang dalam menggunakan bahasa dari pengalaman membaca ikut menentukan efektivitas dalam berkomunikasi. Bagi anak (siswa SD) proses penguasaan ketepatan penggunaan bahasa terjadi secara bertahap sesuai dengan perkembangan pemerolehan bahasanya. Sejalan dengan hal itu, Mbete (2004:19) dalam Werdiningsih (2011:1) berpendapat bahwa bahasa dalam bacaan merupakan sumber daya dan kekayaan mental yang setelah diperoleh dan dipelajari ada dalam diri manusia dan masyarakat.

Membaca sangat penting dan sangat perlu untuk dibudayakan sedini mungkin mulai dari Sekolah Dasar. Pembiasaan membaca dengan  pengertian lain yakni Gerakan Literasi yang kaitannya dengan Gerakan Menumbuhkan Budi Pekerti Luhur sebagaimana diatur dalam Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti. Penumbuhan budi pekerti sangat erat kaitannya pembentukan karakter dalam pendidikan. Pendidikan karakter mengajarkan kebiasaan cara berpikir dan berperilaku yang membantu individu untuk hidup dan bekerja bersama sebagai keluarga, masyarakat, dan bernegara, serta membantu mereka untuk membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan. Dengan kata lain pendidikan karakter mengajarkan anak didik berpikir cerdas, berkarakter sehat dan mengaktivasi otak tengah secara alami (Yahya Khan dalam Zainal Aqib,2012:1). Dalam hal  pembiasaan mengembangkan potensi diri peserta didik secara utuh, ditegaskan bahwa “Siswa dan warga sekolah harus membaca buku bacaan minimal selama 15 (lima belas) menit setiap hari sebelum pembelajaran dimulai di sekolah” (Kemendikbud, 2016:20).

Sehubungan dengan budaya membaca dan menggalakkan minat baca, pemerintah melalui Kemendikbud telah melakukan bderbagai upaya antara lain menggenjot Gerakan Indonesia Membaca (GIM). Gerakan ini dipadukan dengan Gerakan Literasi atau membudayakan minat baca masyarakat Indonesia menjadi masyarakat yang gemar membaca literasi. Bahkan Gerakan Literasi Sekolah menjadi salah satu modal dasar dan bagian yang integral dengan hajat besar bangsa Indonesia menyiapkan Generasi Emas Tahun 2045.

Dalam hal membaca, secara umum tingkat minat baca orang Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Berdasarkan hasil studi Most Littered Nation In the Word yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada bulan Maret 2016 terhadap 61 negara yang disurvei, Indonesia menduduki peringkat 60 tentang minat baca. Indonesia berada di bawah Thailad (peringakat 59) dan berada di atas Bostwana (peringkat 61). Berarti Indonesia menduduki peringkat ke 2 dari bawah. Padahal dari segi pemenuhan infrastruktur seperti pengadaan perpustakaan dan penyediaan buku sumber atau literatur, Indonesia berada di urutan 34 di atas Jerman, Portugal, Selandia Baru, dan Korea Selatan (Anis Baswedan, 2016).

Patut diakui bahwa secara bertahap sampai saat ini pemerintah selalu berupaya menyediakan berbagai infrastruktur pendukung seperti perpustakaan sekolah walaupun belum terpenuhi secara maksimal. Namun di sisi lain, daya guna dari perpustakaan itu sendiri belum tampak menjembatani penumbuhan minat baca siswa di sekolah khususnya sekolah dasar. Menurut penulis, ada beberapa kendala yang dihadapi siswa dalam memanfaatkan perpustakaan sebagai salah satu media Gerakan Literasi Sekolah. Kendala tersebut adalah: 1) belum ada tenaga pustakawan tetap khusus di sekolah dasar, 2) siswa masih enggan membaca di perpustakaan karena ketidaktahuan cara mencari referensi yang selalu acak di perpustaan, 3) waktu yang tersedia untuk  membaca di perpustakaan sekolah sangat terbatas karena harus bergiliran membaca dengan siswa lain atau kelas lain, 4) daya tampung dari ruang perpustakaan sangat terbatas, 5) Jenis referensi atau buku bacaan yang  menghabiskan watunya untuk menikmati animasi game dan film kartun yang ada di Warnet, di rumah, tayangan televisi dan handphon miliknya atau milik orang tuanya.  Dengan demikian, sangat diperlukan solusi untuk menggairahkan minat baca siswa  atau warga sekolah selain menggunakan perpustakaan dan perpustakaan keliling yang ada sebagai sumber literasi.

Menyikapi fenomena yang dihadapi  saat ini di SD Negeri Kedungrejo 02, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun sebagaimana disebutkan dalam tujuh kendala di atas, maka penulis dengan dukungan semua pihak terkait di sekolah,  mencoba melakukan penelitian tentang Gerakan Literasi dengan “Model Teras Pustaka.” Model ini diharapkan dapat membangkitkan semangat warga sekolah terutama siswa dari prinsip memandang profil sebuah buku  selama ini sebagai “Monster” menjadi “Master” yang menjadi sahabat setia dalam menemukan jati dirinya untuk meraih masa depan  gemilang.

Gerakan Literasi Sekolah dilakukan sebagai implementasi dan komitmen yang menjiwai warga SD Negeri Kedungrejo 02 yang dituangkan dalam Motto Perpustakaan “GRAHA WIYATA” yaitu “CINTA BUKU, GEMAR MEMBACA, GIAT MENULIS, PANDAI BERHITUNG dan RINDU PERPUSTAKAAN”.

Berdasarkan hasil observasi terhadap minat baca warga sekolah SD Negeri Kedungrejo 02 Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun, tingkat minat baca sangat rendah baik guru, pegawai sekolah, orang tua, maupun siswa sebagai subyek utama dalam penelitian ini.

METODE PENELITIAN

Untuk mengungkap permasalahan di atas maka pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif analisis (descriptive of analysis research). Pendekatan deskriptif analisis ini bercorak bibilografis yaitu pencarian berupa data, fakta, hasil dan ide pemikiran seseorang melalui cara mencari, menganalisis, membuat interpretasi serta melakukan generalisasi terhadap hasil penelitian yang dilakukan. Peneliti mendeskripsikan secara rinci dan mendalam mengenai data yang dikumpulkan berupa rangkaian kata atau kalimat dan bukan urutan angka. Pendekatan dalam penelitian deskriptif menyangkut peristiwa peristiwa yang sudah terjadi, yang berhubungan dengan kondisi masa kini (Faisal,dalam Sujadi, 2013:738). Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif.

Penelitian dengan pendekatan kualitatif menekankan analisis proses dari proses berpikir secara induktif yang berkaitan dengan dinamika hubungan antarfenomena yang diamati, dan senantiasa menggunakan logika ilmiah (Imam, 2014:80). Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyektif yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisis data bersifat induktif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna daripada generalisasi (Sugiyono, 2009:1).

HASIL  DAN PEMBAHASAN

Penelitian dilakukan terhadap semua siswa dari kelas I sampai kelas VI SD Negeri Kedungrejo 02 Kecamatan Balerejo Kabupaten Madiun yang berjumlah 139 orang. Waktu penelitian selama 6 bulan mulai September 2016 sampai Maret 2017. Permasalahan yang diteliti adalah minat baca warga sekolah sehubungan dengan implementasi Gerakan Literasi Sekolah (Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015). Hasil yang diperoleh berdasarkan catatan hasil observasi dan data lapangan menunjukkan sebagai berikut: 1) September 2016 terdapat 21 siswa membaca di perpustakaan sekolah (15,10%) , 2) Oktober 2016 sebanyak 38 siswa membaca di perpustakaan sekolah (27,33%), 3) November 2016 hanya 17 siswa membaca di perpustakaan sekolah (12,23%), 4) Desember 2016 terdapat 22 siswa membaca di perpustakaan sekolah (15,82%), 5) Januari 2017 hanya 18 siswa membaca di perpustakaan sekolah (12,94%), 6) Februari 2017 sebanyak 25 siswa membaca di perpustakaan sekolah (17,98%). Awal Maret 2017 jumlah siswa yang membaca setiap hari selama 15 (lima belas) menit yakni mulai pukul 06.30 sampai pukul 06.45, rata rata siswa membaca sebanyak 136 siswa (97,84%). Dari data penelitian yang dilakukan selama 6 bulan, hasil yang diperoleh belum menunjukkan target yang diharapkan artinya minat baca siswa belum mencapai rata rata 50%. Namun pada bulan ketujuh yakni Awal Maret 2017 minat baca siswa meningkat sangat signifikan yakni mencapai rata rata 97,84% tiap hari.

Selain siswa, guru dan pegawai serta orang tua siswa SD Negeri Kedungrejo 02 dan masyarakat sekitar memiliki tingkat minat baca yang sangat rendah. Setiap bulan, guru atau pegawai membaca di pustakaan sekolah hanya 2 sampai 3 orang dari 12 guru atau pegawai sekolah. Itu berarti minat baca guru atau pegawai sekolah berkisar pada 16,66% sampai 25% saja. Padahal setiap hari rata‑rata 9 sampai 10 guru atau pegawai mengunjungi perpustakaan sekolah. Kebanyakan mereka hanya duduk  duduk dan menghabiskan waktu senggang saat jam istirahat untuk ngobrol saja daripada membaca literatur atau buku yang tersedia di perpustakaan sekolah. Sesungguhnya bagi mereka memiliki mental cendikia, tidak mungkin membiarkan waktu berlalu dengan sia  sia. Mereka selalu memanfaatkannya untuk membaca apa saja, entah buku, koran, majalah, atau tabloid. “Waktu adalah pedang”, mungkin pepatah Arab ini bisa mewakili pandangan mereka. Tetapi semboyan yang tepat untuk pelajar dan mahasiswa adalah “tiada  hari tanpa belajar” ( Aqib, 2011:22).

Orang tua siswa dan masyarakat sekitar belum pernah ada yang masuk ke perpustakaan sekolah untuk membaca buku setiap hari saat mereka mengantar dan menunggu anaknya yang belajar di kelas I dan kelas II selama 3 jam. Mereka diberi kesempatan untuk memanfaatkan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar atau membaca. Sehubungan dengan rangkaian kegiatan penelitian ini, orang tua siswa dan guru sudah mulai aktif membaca bersama siswa selama 15 menit setiap hari pada pukul 06.30 sampai pukul 06.45.

Perpustakaan itu disediakan untuk tempat membaca dan menggali ilmu pengetahuan. Pada tahun 1970, The American Library Association menggunakan istilah perpustakaan untuk suatu pengertian yang luas, yaitu termasuk pengertian “pusat media, pusat belajar, pusat pendidikan, pusat informasi, pusat dokumentasi, dan pusat rujukan”. Secara sederhana, arti dari perpustakaan adalah salah satu bentuk organisasi sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan bukan buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai (guru/dosen, siswa/mahasiswa, dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya (Rosalin, 2008:19).

Oleh UNESCO, perpustakaan diartikan sebagai suatu koleksi buku‑buku, jurnal  jurnal, dan bahan bacaan, serta audio visual lainnya yang terorganisasi, dan jasa‑jasa staf (pustakawan) yang mampu memberikan dan menginterpretasikan bahan  bahan semacam itu yang dibutuhkan untuk memenuhi keperluan informasi, penelitian, pendidikan dan rekreasi para pengunjungnya. Dalam hal pengertian yang mutahir, seperti tercantum dalam Keputusan Presiden RI Nomor 11 Tahun 2005, disebutkan bahwa “perpustakaan merupakan salah satu sarana pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan mempunyai fungsi sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional”.

Dari pengertian dan fungsi perpustakaan yang diuraikan, dapat dipahami bahwa eksistensi perpustakaan di sekolah sangat diperlukan. Namun ada kenyataan yang dibuktikan dalam hasil penelitian ini, perpustakaan tidak difungsikan secara maksimal oleh warga sekolah SD Negeri Kedungrejo 02. Untuk itu, penulis dengan dukungan warga sekolah mengembangkan Gerakan  Literasi Sekolah dengan model “Teras Pustaka,” yaitu isi perpustakaan sekolah harus dibawa ke alam terbuka dengan memanfaatkan teras kelas atau selasar atau emper depan kelas sebagai teras pustaka sehingga memudahkan warga sekolah membaca buku dalam rangka mengimplementasikan Gerakan Literasi Sekolah. Modelnya sangat sederhana namun lebih banyak membawa dampak positif, praktis, efektif, dan efisien. Di depan setiap kelas diletakkan sebuah meja dan dipajang sejumlah buku bacaan, para pembaca (siswa, guru/pegawai,dan orang tua siswa) bebas memilih judul buku/bacaan yang diinginkan lalu membaca dengan santai di sekitar teras sekolah atau di bawah pohon atau di dalam kelas selama 15 menit.

Dapat dibuktikan bahwa para pembaca lebih bergairah dan termotivasi minat bacanya di alam terbuka daripada mereka duduk berdesak  desakan membaca di ruang perpustakaan sekolah. Dengan demikian, dapat diamati bahwa fungsi perpustakaan sekolah dalam konteks ini, hanya  dijadikan sebagai tempat menyimpan literatur atau sumber bacaan dan sumber belajar saja.

SIMPULAN DAN SARAN

Pengembangan Model Teras Pustaka membawa dampak positif bagi siswa dalam rangka meningkatkan minat baca warga sekolah SD Negeri Kedungrejo 02, Kecamatan  Balerejo, Kabupaten Madiun. Hasil yang dicapai setelah adanya pengembangan konsep Teras Pustaka sebagai Model implementasi gerakan literasi sekolah pada awal Maret 2017, minat baca warga sekolah SD Negeri Kedungrejo 02 meningkat menjadi rata  rata 97,84% tiap hari.

“Teras Pustaka” jika didesain dan difungsikan secara optimal maka dapat dipastikan bahwa minat baca warga sekolah dapat ditingkatkan. Jika model Teras Pustaka ini dikembangkan di kalangan masyarakat Indonesia dan khususnya di sekolah dasar sebagai ujung tombak pendidikan dasar, maka minat baca orang Indonesia yang menduduki peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei pada tahun 2016, diharapkan dapat berubah naik ke peringkat yang lebih baik pada tahun 2045.

Selaian itu, dapat diharapkan pada Era Indonesia Emas Tahun 2045, bangsa Indonesia populer di mata dunia karena dijiwai oleh prinsip generasi harapan yang berkarakter “Cinta Buku, Gemar Membaca, Giat Menulis, Pandai Berhitung, dan Rindu Perpustakaan”.

DAFTAR RUJUKAN

Aqib, Zainal, 2011. Panduan & Aplikasi Pendidikan Karakter. Bandung: Yrama Widya

Aqib, Zainal, 2012. Pendidikan Karakter di Sekolah (Membangun Karakter dan Kepribadian  anak), Bandung: Yrama Widya

Depdikbud, 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Depdiknas, 2003. Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta: Depdiknas

Imam,Gunawan, 2014. Metode Penelitian Kualitatif Teori & Praktik. Jakarta: PT Bumi Aksara

Kemendikbud RI, 2016. Panduan Gerakan Literasi Sekolah di Sekolah Dasar. Jakarta : Kemendikbud.

Kemendikbud RI, 2016. Buku Panduan Pelaksanaan Gerakan Penumbuhan Budi Pekerti.

Lukitaningsih, 2011. Pendidikan Etika, Moral, Kepribadian dan Pembentukan Karakter    (Masalah Kenakalan Remaja, Narkoba, HIV, Computer/TV Addiction). Yogyakarta: Jogja Mediautama.

 Rosalin,Elin, 2008. Pemanfaatan Perpustakaan dan Sumber Informasi. Bandung: PT Karsa Mandiri Persada

Unisma, 2013.NOSI (Jurnal Ilmiah, Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya.Volume 1,Nomor 7, Agustus 2013). Malang: PPS Unisma.

Sugiyono, 2009. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta CV

Sujadi, 2013. Nilai Karakter dalam Novel Negeri 5 Menara Karya A.Fuadi (Tesis). Malang: UNISMA.

Werdiningsih,Dyah, 2011. Strategi Pembelajar Bahasa Anak. Jakarta: Nirmana MEDIA

Oleh : M.H. Nurlette, S.IP,M.Pd

(Guru SDN Kedungrejo 02/081359280201)

 

 

NEW

November 17th 2017Views 1Comments 0Rating 0
November 16th 2017Views 2Comments 0Rating 0
November 14th 2017Views 13Comments 0Rating 0
November 13th 2017Views 13Comments 0Rating 0
November 10th 2017Views 21Comments 0Rating 0
November 9th 2017Views 15Comments 0Rating 0
November 9th 2017Views 14Comments 0Rating 0
November 8th 2017Views 16Comments 0Rating 0
November 7th 2017Views 18Comments 0Rating 0
November 6th 2017Views 15Comments 0Rating 0
November 4th 2017Views 15Comments 0Rating 0
November 2nd 2017Views 23Comments 0Rating 0
November 1st 2017Views 22Comments 0Rating 0
October 31st 2017Views 26Comments 0Rating 0
October 30th 2017Views 25Comments 0Rating 0
October 30th 2017Views 26Comments 0Rating 0
October 27th 2017Views 37Comments 0Rating 0
October 27th 2017Views 28Comments 0Rating 0
October 23rd 2017Views 37Comments 0Rating 0
October 23rd 2017Views 28Comments 0Rating 0
October 23rd 2017Views 28Comments 0Rating 0
October 19th 2017Views 25Comments 0Rating 0
October 18th 2017Views 34Comments 0Rating 0
October 13th 2017Views 57Comments 0Rating 0
October 11th 2017Views 39Comments 0Rating 0